Headlines
Minggu, 15 November 2015
senkom tangerang

KOMJENPOL (PURN) Dr. H. MOEHAMMAD JASIN.


PENGANUGERAHAN PAHLAWAN NASIONAL

Dengan suasana penuh khidmat, Presiden RI Ir. Joko Widodo memimpin upacara penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada 5 putra terbaik bangsa Indonesia. Pemberian gelar ini seiring dengan peringatan Hari Pahlawan tahun 2015 yang mengusung tema “Semangat Kepahlawanan adalah Jiwa Ragaku”, tema ini seakan menggugah para penerus bangsa, generasi muda pada khususnya agar selalu mewarisi jiwa juang semangat, jiwa pantang menyerah dan rela berkorban demi tanah air dan bangsa. Setelah melalui tahapan pengusulan gelar Pahlwan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2015 tanggal 4 November 2015, menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada :
a. Alm. Bernard Wilhem Lapian
b. Alm. Mas Isman
c. Alm. Komisaris Jenderal Polisi. Dr. H. Moehammad Jasin
d. Alm. I Gusti Ngurah Made Agung
e. Alm. Ki Bagus Hadikusumo
Untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional terdapat persyaratan yang harus dipenuhi baik persayaratan umum maupun khusus. Berdasarkan pasal 25 UU Nomor 20 tahun 2009, syarat untuk memperoleh gelar, tanda jasa dan tanda kehormatan terdiri atas :
a. WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI
b. Memiliki integritas moral dan keteladanan
c. Berjasa terhadap bangsa dan negara
d. Berkelakuan baik
e. Setia dan tidak menghianati bangsa dan negara
f. Tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 tahun.
Sedangkan persyaratan khusus sesuai pasal 26 UU Nomor 20 tahun 2009, gelar diberikan kepada seseorang yang telah meninggal dunia dan yang semasa hidupnya :
a. pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.
b. tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan
c. melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas yang diembannya.
d. pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara.
e. pernha menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa
f. melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.
Almarhum Komjen Pol. (Purn) Dr. H. Moehammad Jasin lahir di Bau-Bau, Buton, Sulawesi Tenggara tanggal 9 Juni 1920. Beliau wafat pada tanggal 3 Mei 2012 dengan meninggalkan istri Almh Hj. Siti Aliyah Kessing dan 4 putra yaitu :
a. Rubyanti Jasin
b. Djauhar Jasin
c. Djuanda Jasin (alm)
d. Djuwaita Jasin
Riwayat perjuangan :
a. Pendidikan umum diikuti Jssin di Volkschool di bau-bau, Hollands Inlandsche School (HIS) dan Schakel School di Makassar, dan terakhir di Meer Uitgerbreid lager Onderwijs (MULO). Setelah tamat dari MULO tahun 1941, Jasin mengikuti pendidikan kepolisian di Sekolah Polisi di Sukabumi, Jawa Barat. Selesai mengikuti pendidikan ini dengan pangkat Hoofd Agent, ia bertugas di kantor polisi seksi 111 di Bubutan, Surabaya. Pada masa awal pendudukan Jepang, Jasin kembali ke Sukabumi untuk mengikuti pendidikan polisi ala Jepang yang lebih bercirikan pendidikan militer. Sesudah itu, ia ditempatkan di Gresik dan bertugas sebagai instruktur di sekolah polisi di Surabaya, tempat mendidik calon-calon anggota Tokobetsu Keisatsu Tai (Polisi Istimewa). Di sekolah ini, bukan hanya ilmu kepolisian yang diajarkan, tetapi juga kemiliteran. Disamping itu, Jasin juga memberikan pelatihan terhadap anggota Seinenda.
b. Setelah Indonesia Merdeka, Jasin melibatkan dirinya secara aktif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Tindakan pertamanya yang cukup monumental ialah memproklamasikan Polisi Istimewa menjadi Polisi Indonesia . Proklamasi ini diucapkan pada tanggal 21 Agustus 1945, delapan hari sebelum pemerintah RI mengangkat R.S. Soekanto sebagai Kepala Djawatan Kepolisian Negara. Dengan proklamasi itu berarti Jasin melepaskan keterikatan Polisi Istimewa dengan Jepang dan mengubah status polisi ini dari polisi kolonial menjadi polisi negara merdeka. Proklamasi itu sekaligus juga merupakan antisipasi terhadap kemungkinan Jepang melucuti senjata Polisi Istimewa seperti yang mereka lakukan terhadap tentara Pembela Tanah Air.
c. Selama bulan-bulan pertama sesuah proklamasi kemerdekaan, dapat dikatakan bahwa Surabaya merupakan kota “Terpanas” di Indonesia, baik disebabkan oleh perebutan senjata dari pasukan Jepang maupun pertempuran melawan pasukan sekutu. Dalam kaitan dengan perebutan senjata, dapat dicatat dua peran yang dimainkan Jasin. Pertama, dalam perebutan senjata di Don Bosco dimana Jepang menjadikan gedung Don Bosco sebagai gudang senjata (arsenal) terbesar di Surabaya. Usaha tokoh-tokoh pejuang Surabaya termasuk Bung Tomo, meminta agar senjata di Arsenal tersebut diserahkan , tidak berhasil. Pihak Jepang bersedia menyerahkan senjata hanya kepada kepada polisi. Kedua, di markas Kempeitei, para pejuang Surabaya baku tembak dengan pasukan Jepang. Dalam suasana seperti itu, dengan menerobos kawat berduri, Jasin memasuki memasuki markas dan memasuki markas dan menemui komandan Kempeitei untuk mengadakan perundingan. Sebagai hasil dari perundingan itu, pihak Kempeitei bersedia menyerahkan senjata. Jasin pun berjanji akan menjamin keselamatan anggota Kempeitei selama mereka berada di Surabaya.
d. Beberapa hari setelah pertempuran Surabaya meletus, Jasin mengumumkan lewat radio bahwa pasukan Polisi Istimewa yang dipimpinnya sudah dimiliterisasi dan karena itu diharuskan ikut dalam pertempuan.Dengan demikian, polisi tidak hanya berfungsi sebagai alat keamanan, tetapi juga sekaligus sebagai alat pertahanan. Selama pertempuran Surabaya berlansung, Jasin memimpin pasukannya dalam pertempuran di beberapa tempat. Ia meninggalkan Surabaya dan memindahkan markasnya ke Sidoarjo menjelang akhir November 1945,setelah hampir seluruh kota ini dikuasai Inggris. Pada waktu Belanda melancarkan agresi militer kedua, Jasin bergerilya di sekitar Gunung Wilis. Ia juga bertugas sebagai Komandan Militer Sektor Timur Madiun.
e. Nama Mohammad Jasin tidak dapat dilepaskan dari keterkaitannya dengan Mobiele Brigade (Mobbrig) yang kemudian berganti nama dengan Brigade Mobil (Brimob). Pasukan khusus yang dapat berfungsi pasukan tempur ini dibentuk pada bulan November 1946 dalam konferensi Djawatan Kepolisian Negara di Purwokerto. Jasin yang hadir dalam konferensi itu di angkat menjadi Komandan Mobiele Brigade Besar (MMB) Jawa Timur, sekaligus koordinator Mobrig di semua keresidenan di Jawa Timur. Sebagai komandan MBB Jawa Timu, pada bulan September 1948 ia memimpin 4 Kompi Mobrig untuk bersama dengan pasukan Tentara Nasional Indonesia menumpas pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun. Setelah Madiun dikuasai kembali oleh pasukan pemerintah, Jasin dan pasukannya melancarkan operasi pembersihan terhadap sisa-sisa PKI di Blitar Selatan. Dalam periode tahun 1950 an, ia juga terlibat dalam menumpas berbagai pemberontakan dalam negeri, antara lain pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).
f. Pada waktu di Sumatera terjadi pemberontakan pemerintah revolusioner Republik Indonesia (PRRI), pemerintah Amerika Serikat bermaksud menempatkan pasukan marinir di Riau dengan alsan menjaga instalasi minyak milik perusahaan Amerika dan keamanan warga negara Amerika. Jasin beranggapan bahwa penempatan pasukan itu sebagai bantuan terselubung Amerika untuk PRRI. Dengan persetujuan Perdana Menteri Ali Sastroamijoyo, Jasin menemui Duta Besar Amerika Serikat, Howard P. Jones. kepada Duta besar tersebut dikatakannya bahwa tugas pengamanan dapat dilakukan oleh pasukan Mobrig, sehingga Amerika Serikat tidak perlu mengirimkan pasukan marinir. Jaminan yang diberikan oleh Jasin dapat diterima oleh Jones dan Jasin pun menempatkan pasukan Mobrig di Riau seperti yang dijanjikannya.
g. Pada akhir 1959, Mohammad Jasin diasingkan keluar negeri, yakni ke Jerman. Latar belakangnya adalah ia menentang pengangkatan Soekarno Joyonegoro sebagai menteri atau Panglima angkatan kepolisian dengan alasan, Soekarno Joyonegoro “disenangi” oleh PKI. Sebagai protes ia menolak untuk diangkat menjadi wakil menteri angkatan kepolisian mendampingi Soekarno Joyonegoro. Pada akhir Desember 1964, Presiden Soekarno meminta Jasin untuk menemuinya di Paris. Dalam pertemuan itu, Presiden mengatakan bahwa Jasin akan diangkat menjadi menteri / Panglima Angkatan Kepolisian. Oleh karena itu, pada awal Januari 1965 ia kembali ke Indonesia. Setelah bertugas beberapa waktu sebagai sekretaris Komando Operasi Tertinggi (KOTI), ia dipanggil ke istana untuk dilantik sebagai Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian. Namun, atas desakan Wakil Perdana Menteri (Waperdam) dr. Subandrio, pengangkatan itu dibatalkan.
h. Selain berkiprah di lingkungan kepolisian, Jasin juga pernah diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) dan kemudian MPR. Di luar lembaga kenegaraan, Jasin tercatat sebagai amggota Pimpinan Markas Besar Legiun Veteran RI dan Ketua Yayasan 10 November , serta beberapa organisasi lain. Dari tahun 1967 sampai 1970, ia bertugas sebagai Duta Besar Luar Biasa dan berkuasa penuh RI untuk negara Tanzania.
sumber:Divisi Humas Mabes Polri

senkom tangerang on 18.51. . . by: S 13 FBI

senkom tangerang on 18.51. . .

0 komentar for " KOMJENPOL (PURN) Dr. H. MOEHAMMAD JASIN."

Komentarlah dengan bijak !!!Mohon Komentar anda tidak boleh mengandung unsur: 1. Penghinaan, Pelecehan, Pornografi atau SARA lainnya. 2. Spamming (spamming content). 3. Link Aktif, Teks Anchor ataupun sejenisnya. Terima Kasih telah memberikan komentar pada Website ini.

SIC APK


https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wSenkomInformationCentre

FUN PAGE

SENKOM APK

http://4.bp.blogspot.com/-XrsbeyC_lDk/VA2CkDxAD7I/AAAAAAAAAFQ/C24HxB0DYp0/s1600/Aplikasi-Android.png

FB : SENKOM

SENKOM TV

http://4.bp.blogspot.com/-nxn5Y_BGYY0/Vehf4x1IrAI/AAAAAAAABNg/CVE0cO5fRr4/s1600/senkom%2Btv.jpg