Headlines
Senin, 14 Desember 2015
senkom tangerang

HARI BELA NEGARA


19 Desember, merupakan Hari Bela Negara (HBN) yang merupakan salah satu hari yang
bersejarah bagi bangsa Indonesia guna untuk memperingati deklarasi
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) oleh Mr. Syafruddin
Prawiranegara di Sumatra Barat pada tahun 19 Desember 1948. Hari yang
mana para pahlawan bangsa terdahulu mempertaruhkan jiwa raganya untuk
mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di
tengah-tengah guncangan Agresi Militer Belanda II.

Pada saat itu Belanda menguasai ibukota RI yang masih berada di
Yogyakarta. Mereka berulangkali menyiarkan berita bahwa RI sudah bubar.
Karena para pemimpinya, seperti Soekarno, Hatta, dan Syahrir sudah
menyerah dan ditahan.


Mendengar berita bahwa tentara Belanda telah menduduki Yogyakarta dan
menangkap sebagian besar pemimpin Pemerintah Republik Indonesia, tanggal
 19 Desember sore hari, Mr. Syafruddin Perwiranegara bersama Kol.
Hidayat, Panglima Tentara dan Teritorium Sumatera, mengunjungi Mr. Teuku
 Mohammad Hasan, Gubernur Sumatera/ Ketua Komisaris Pemerintah Pusat
dikediamanya, untuk mengadakan perundingan. Malam itu juga mereka
meninggalkan Bukittinggi menuju Halaban, daerah perkebunan teh, 15 Km di
 selatan kota Payakumbuh.


Sejumlah tokoh pimpinan RI yang berada di Sumatera Barat dapat berkumpul
 di Halaban, dan pada tanggal 22 Desember 1948 mereka mengadakan rapat
yang dihadiri antara lain oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Mr. T. M.
Hassan, Mr. Sutan Muhammad Rosjid, Kol. Hidayat, Mr. Lukman Hakim, Ir.
Indracahya, Ir. Mananti Sitompul, Maryono Danubroto, Mr. A. Karim, Rusli
 Rahim, dan Mr. Latif. Walaupun secara resmi kawat Presiden Soekarno
belum diterima, tanggal 22 Desember 1948, sesuai dengan konsep yang
telah disiapkan, maka dalam rapat tersebut diputuskan untuk membentuk
Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).


Dalam keputusan tersebut, Mr. Sjafruddin Prawiranegara terpilih menjadi
ketua PDRI, dan pada keesokan harinya, pada tanggal 23 Desember beliau
berpidato yang intinya memberi motifasi kepada para tentara RI dan
seluruh rakyat Sumatera Barat agar selalu semangat dan terus berjuang
mempertahankan NKRI, walaupun para pemimpin bangsa telah ditangkap
Belanda. Salah satu kata motifasi beliau dalam pidatonya yaitu
“Bertempurlah, gempurlah Belanda di mana saja dan dengan apa saja mereka
 dapat dibasmi. Jangan letakkan senjata, menghentikan tembak-menembak
kalau belum ada perintah dari pemerintah yang kami pimpin. Camkanlah hal
 ini untuk menghindarkan tipuan-tipuan musuh”.


Sejak itu PDRI menjadi musuh nomor satu bagi Belanda. Tokoh-tokoh PDRI
harus bergerak terus sambil menyamar untuk menghindari kejaran dan
serangan Belanda. Hutan belukar, sepanjang sungai, tanah yang terjal
menjadi saksi besarnya perjuangan para pahlawan bangsa, bahkan kurangnya
 bahan makanan tak menghentikan perjuangan mereka mempertahankan
keutuhan NKRI.


Sekitar satu bulan setelah agresi militer Belanda, Mr. Sjrafuddin
Prawiranegara menjalin komunikasi dengan keempat Menteri yang berada di
Jawa, guna untuk menghilangkan dualisme kepemimpinan di Sumatera dan
Jawa. Akhirnya, pada tanggal 31 Maret 1945 PDRI dapat disempurnakan.


Menjelang pertengahan tahun 1949, posisi Belanda semakin terjepit. Dunia
 internasional mengecam agresi militer Belanda. Akhirnya, dengan
terpaksa Belanda harus menghadapi RI di meja perundingan. Belanda
memilih berunding dengan utusan Soekarno-Hatta yang ketika itu statusnya
 tawanan. Perundingan itu menghasilkan Perjanjian Roem-Royen yang
membuat para tokoh PDRI tidak senang. Jendral Sudirman mengirimkan kawat
 kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara mempertanyakan kelayakan para
tahanan maju ke meja perundingan. Namun, Sjafruddin Prawiranegara
berfikiran untuk mendukung dilaksanakannya perjanjian Roem-Royen.


Setelah perjanjian Roem-Royen, M. Nasir meyakinkan Mr. Sjafruddin
Prawiranegara untuk datang ke Jakarta, menyelesaikan dualisme
pemerintahan RI, yaitu PDRI yang dipimpinya, dan kabinet Hatta, yang
secara resmi tidak dibubarkan. Dan setelah perjanjian Roem-Royen
ditandatangani, pada 13 Juli 1949, diadakan sidang antara PDRI dengan
Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta serta sejumlah menteri kedua
kabinet. Pada sidang inilah secara formal Mr. Sjafruddin Prawiranegara
menyerahkan kembali mandatnya, sehingga dengan demikian, M. Hatta,
selain sebagai wakil Presiden, kembali menjadi Perdana Menteri. Setelah
serah terima secara resmi pengambilan mandat dari PDRI, tanggal 14 Juli,
 pemerintah RI menyetujui hasil persetujuan Roem-Royen, sedangkan KNIP
baru mengesahkan persetujuan tersebut tanggal 25 Juli 1949.


Perjuangan Mr. Sjafruddin Prawiranegara ini tidak boleh kita lupakan
begitu saja, sebab perjuangan mempertahankan keutuhan suatu negara
merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Jika waktu itu, tidak ada yang
bertindak seperti apa yang dilakukan beliau, pasti tidak akan ada negara
 Indonesia yang sekarang ini. Mengingat pentingnya peristiwa tersebut,
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Keputusan Presiden
(Kepres) Nomor 28 Tahun 2006. Negara megakui PDRI sebagai bagian
sejarah, dan memiliki arti penting bagi keutuhan NKRI. Masa itu,
pemerintah tidak berjalan dan pemimpin Indonesia Soekarno-Hatta
ditangkap Belanda, tapi PDRI yang dipimpin Mr.Sjafruddin Prawiranegara
membuktikan NKRI masih ada.


Begitulah perjuangan para pahlawan bangsa kita terdahulu. Mereka begitu
ikhlas dalam berjuang, memiliki semangat yang tinggi, dan selalu
mengutamakan persatuan demi kemakmuran bangsa Indonesia. Untuk itu, kita
 sebagai generasi penerus sudah seharusnya kita melanjutkan
perjuangannya demi mewujudkan bangsa yang aman dan sejahtera.


Kita harus memaknai Hari Bela Negara kali ini, dengan selalu berada di
barisan terdepan dalam bersikap dan berbuat demi membela dan
mempertahankan kepentingan bangsa dan negara, karena negara merupakan
hal yang sangat penting bagi kehidupan kita. Pada dasarnya setiap orang
itu membutuhkan organisasi yang disebut negara. Coba bayangkan, apa yang
 akan terjadi jika tidak ada negara? Pasti kehidupan ini tidak akan
teratur, kacau, dan rusak yang tidak bisa dibayangkan kerusakannya.


Dalam hal ini, Thomas Hobes pernah melukiskan kehidupan manusia sebelum
adanya negara yaitu “manusia merupakan serigala bagi manusia lainya”
(Homo Homini Lupus) dan “perang manusia lawan manusia” (Bellum Omnium
Contra Omnes). Dengan demikian, jika tidak ada negara pasti tidak akan
ada ketertiban, keamanan, dan keadilan. Supaya hidup tertib, aman, dan
damai maka diperlukan negara. Sedangkan, negara akan tegak berdiri jika
dipertahankan oleh setiap warganya. Oleh karena itu, membela negara
sangat penting dilakukan oleh setiap warga negaranya.
 






sumber : kompasiana

senkom tangerang on 20.03. . . by: S 13 FBI

senkom tangerang on 20.03. . .

0 komentar for "HARI BELA NEGARA "

Komentarlah dengan bijak !!!Mohon Komentar anda tidak boleh mengandung unsur: 1. Penghinaan, Pelecehan, Pornografi atau SARA lainnya. 2. Spamming (spamming content). 3. Link Aktif, Teks Anchor ataupun sejenisnya. Terima Kasih telah memberikan komentar pada Website ini.

SIC APK


https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wSenkomInformationCentre

FUN PAGE

SENKOM APK

http://4.bp.blogspot.com/-XrsbeyC_lDk/VA2CkDxAD7I/AAAAAAAAAFQ/C24HxB0DYp0/s1600/Aplikasi-Android.png

FB : SENKOM

SENKOM TV

http://4.bp.blogspot.com/-nxn5Y_BGYY0/Vehf4x1IrAI/AAAAAAAABNg/CVE0cO5fRr4/s1600/senkom%2Btv.jpg